Seminar Lingkungan Hidup JMSI Riau di Kampus UIR, Tekankan Pentingnya Mitigasi Karhutla di Tengah Ancaman Iklim Ekstrem

Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau mendorong penguatan langkah mitigasi dan adaptasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Dorongan itu disampaikan Ketua JMSI Riau Dheni Kurnia saat membuka Seminar Lingkungan Hidup bertajuk Adaptasi dan Mitigasi Karhutla di Era Perubahan Iklim Ekstrem di Rektorat Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (5/11/2026).

Seminar Lingkungan Hidup JMSI Riau di Kampus UIR, Tekankan Pentingnya Mitigasi Karhutla di Tengah Ancaman Iklim Ekstrem
Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau mendorong penguatan langkah mitigasi dan adaptasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul. Dorongan itu disampaikan Ketua JMSI Riau Dheni Kurnia saat membuka Seminar Lingkungan Hidup bertajuk Adaptasi dan Mitigasi Karhutla di Era Perubahan Iklim Ekstrem di Rektorat Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (5/11/2026).

KLIKCERDAS.COM, PEKANBARU — Jaringan Media Siber Indonesia (JMSI) Riau mendorong penguatan langkah mitigasi dan adaptasi kebakaran hutan dan lahan (karhutla) di tengah perubahan iklim yang semakin ekstrem. Penanganan karhutla dinilai tidak cukup hanya mengandalkan pemadaman ketika api sudah muncul.

Dorongan itu disampaikan Ketua JMSI Riau Dheni Kurnia saat membuka Seminar Lingkungan Hidup bertajuk Adaptasi dan Mitigasi Karhutla di Era Perubahan Iklim Ekstrem di Rektorat Universitas Islam Riau (UIR), Kamis (5/11/2026).

Dheni mengatakan, karhutla tidak boleh hanya dipandang sebagai persoalan musiman yang menjadi perhatian ketika kebakaran terjadi. Perubahan iklim menuntut adanya sistem mitigasi dan adaptasi yang dilakukan secara berkelanjutan.

"Kita tidak cukup hanya memadamkan api, tetapi harus bergerak lebih jauh membangun mitigasi," ujarnya.

Menurut Dheni, upaya mitigasi harus melibatkan berbagai pihak, mulai dari pemerintah, masyarakat hingga pengelola kawasan gambut. Kesadaran publik terhadap ancaman karhutla juga perlu terus diperkuat.

Ia menegaskan, penanganan karhutla bukan hanya menjadi tanggung jawab pemerintah. Media massa memiliki peran strategis dalam mengawal persoalan lingkungan sekaligus memastikan masyarakat memperoleh informasi yang benar.

"Media massa tidak boleh hanya menjadi penonton. Media memiliki tanggung jawab publik untuk menyampaikan informasi yang benar," katanya.

Wakil Rektor III UIR Deddy Purnomo Retno mengapresiasi JMSI Riau yang memilih UIR sebagai lokasi seminar lingkungan hidup sekaligus pelaksanaan Uji Kompetensi Jurnalis (UKJ).

Menurutnya, isu karhutla relevan dengan kondisi lingkungan yang dihadapi masyarakat. Dampaknya tidak hanya terhadap lingkungan, tetapi juga berbagai aktivitas masyarakat.

Karena itu, Deddy menilai media memiliki peran penting untuk mengedukasi masyarakat sekaligus mengawal kebijakan pemerintah terkait keberlanjutan lingkungan.

"Peran media sangat krusial, khususnya untuk mengedukasi publik serta mengawal kebijakan keberlanjutan lingkungan," ujarnya.

Ia juga menekankan pentingnya informasi berbasis fakta dan data di tengah perkembangan media digital. Kecepatan media siber dalam menyampaikan informasi, menurutnya, harus diimbangi kompetensi dan independensi wartawan.

"Kecepatan tersebut harus diimbangi dengan kompetensi dan independensi jurnalis agar informasi yang disampaikan tetap berlandaskan fakta dan data," katanya.

Menurut Deddy, pelaksanaan UKJ menjadi salah satu langkah untuk memperkuat profesionalisme wartawan dalam menjalankan tugas jurnalistik, termasuk dalam mengawal isu lingkungan.

Rangkaian kegiatan kemudian dilanjutkan dengan penandatanganan nota kesepahaman (MoU) antara JMSI Riau dan UIR untuk memperkuat kerja sama kedua pihak.

Seminar menghadirkan Direktur Pengendalian Kebakaran Lahan Kementerian Lingkungan Hidup Dasrul Chaniago, akademisi UIR Sri Wahyuni Kadir Abbas, serta Gubernur Riau yang diwakili staf Dinas Lingkungan Hidup dan Kehutanan Riau, Pranoto. (rls)