Delegasi Dua Negara IMT GT Pelajari Pengelolaan Sampah Digital di Pekanbaru

Inovasi pengelolaan sampah berbasis digital di Kota Pekanbaru menarik perhatian delegasi dari dua negara yang tengah mengikuti rangkaian kegiatan Green City Mayors' Council (GCMC) IMT-GT ke-9. Para delegasi meninjau langsung Waste Station di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kacah Mayang yang memungkinkan masyarakat menukar sampah anorganik menjadi uang elektronik melalui aplikasi digital.

Delegasi Dua Negara IMT GT Pelajari Pengelolaan Sampah Digital di Pekanbaru
Para delegasi meninjau langsung Waste Station di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kacah Mayang yang memungkinkan masyarakat menukar sampah anorganik menjadi uang elektronik melalui aplikasi digital. FOTO: Green Radio Line

KLIKCERDAS.COM, PEKANBARU - Inovasi pengelolaan sampah berbasis digital di Kota Pekanbaru menarik perhatian delegasi dari dua negara yang tengah mengikuti rangkaian kegiatan Green City Mayors' Council (GCMC) IMT-GT ke-9. Para delegasi meninjau langsung Waste Station di Ruang Terbuka Hijau (RTH) Kacah Mayang yang memungkinkan masyarakat menukar sampah anorganik menjadi uang elektronik melalui aplikasi digital.

Kunjungan tersebut menjadi kesempatan bagi Pemerintah Kota (Pemko) Pekanbaru untuk memperkenalkan berbagai program pembangunan kota hijau (green city), mulai dari ruang terbuka hijau yang ramah anak hingga sistem pengelolaan sampah yang mengedepankan ekonomi sirkular.

Kepala Dinas Lingkungan Hidup Kota Pekanbaru, Reza Aulia Putra, mengatakan para delegasi diajak melihat bagaimana konsep kota hijau diterapkan melalui berbagai fasilitas publik yang tidak hanya ramah lingkungan, tetapi juga inklusif bagi seluruh masyarakat.

"Hari ini kami memperlihatkan kepada delegasi bahwa taman ini merupakan ruang publik yang layak anak, ramah lingkungan, dapat diakses semua kalangan, bisa dimanfaatkan untuk kegiatan seni seperti teater maupun menjadi tempat bermain anak-anak. Di kawasan ini juga diterapkan sebagai area bebas rokok," kata Reza, Rabu (5/8/2026).

Selain mengunjungi RTH Kacah Mayang, delegasi juga melihat Waste Station yang menjadi salah satu inovasi pengelolaan sampah di Pekanbaru. Menurut Reza, fasilitas tersebut mendapat perhatian khusus dari para tamu karena menggabungkan teknologi digital dengan upaya meningkatkan kesadaran masyarakat untuk memilah sampah.

"Di Pekanbaru saat ini sudah ada dua Waste Station. Banyak delegasi yang tertarik, dan mudah-mudahan konsep Recosistem ini dapat meningkatkan kesadaran masyarakat bahwa sampah anorganik memiliki nilai ekonomi jika dipilah dan dikelola dengan baik," ujarnya.

Dalam kunjungan itu, para delegasi juga diperkenalkan dengan perpustakaan digital yang berada di kawasan RTH Kacah Mayang. Bangunan tersebut memanfaatkan material fly ash dan bottom ash (FABA) hasil kerja sama dengan PLN sebagai bahan konstruksi ramah lingkungan.

Reza menjelaskan, material FABA dimanfaatkan menjadi berbagai produk seperti paving block, pot tanaman, hingga material bangunan lainnya sehingga limbah pembakaran batu bara memiliki nilai guna baru.

Sementara itu, Wali Kota Pekanbaru Agung Nugroho mengatakan Waste Station menjadi contoh bagaimana pengelolaan sampah dapat memberikan manfaat ekonomi secara langsung kepada masyarakat.

"Di sini masyarakat dapat menukar sampah yang sudah dipilah menjadi uang elektronik. Setelah sampah ditimbang, nilainya langsung masuk ke e-wallet melalui aplikasi. Jadi masyarakat langsung merasakan manfaat ekonomi dari memilah sampah," kata Agung.

Menurutnya, sistem tersebut menjadi pembeda dibandingkan bank sampah konvensional yang umumnya membutuhkan waktu sebelum hasil penjualan sampah diterima masyarakat.

Agung menegaskan pembangunan Waste Station tidak menggunakan Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD). Fasilitas tersebut dibangun melalui program tanggung jawab sosial perusahaan (CSR), sementara proses transaksi dan pembelian sampah dikelola oleh Recosistem.

"Bangunan Waste Station dibangun melalui CSR perusahaan. Ini sama sekali tidak menggunakan APBD. Kami ingin menunjukkan bahwa kolaborasi pemerintah dan dunia usaha dapat menghadirkan solusi pengelolaan sampah yang berkelanjutan," ujarnya.

Ia menambahkan, sistem tersebut juga membuka peluang peningkatan pendapatan masyarakat. Berdasarkan pengalaman yang ditemui di lapangan, seorang warga bahkan mampu memperoleh pendapatan sekitar Rp2 juta hingga Rp2,5 juta per bulan dari aktivitas memilah sampah.

Selain Waste Station, para delegasi juga diajak melihat simulasi pengelolaan Tempat Pemrosesan Akhir (TPA) yang telah memanfaatkan gas metana sebagai sumber energi melalui generator. Upaya tersebut menjadi bagian dari strategi Kota Pekanbaru dalam menekan emisi gas rumah kaca sekaligus mendukung target pengurangan emisi karbon.

Agung berharap kunjungan ini dapat membuka peluang kerja sama yang lebih luas dengan berbagai perusahaan maupun mitra internasional sehingga inovasi pengelolaan sampah di Pekanbaru dapat terus berkembang dan memberikan manfaat bagi lingkungan serta masyarakat. (adv)